Tips & Tricks

We are very thankful that you can share your experiences how to get scholarship. Your experiences could be meaningful for our friends, our relatives who want to get scholarship. So, please share with us your experiences.

Thank you.

+++++++++++++++++++++++

Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara

Beberapa jam terakhir, saya dihubungi beberapa orang terkait seleksi beasiswa Australian Leadership Awards (ALA). Rupanya pengumuman seleksi tahap pertama sudah keluar dan beberapa orang telah dinyatakan lolos ke tahap wawancara.

Sebelum lanjut, Anda mungkin bertanya-tanya, apa kualifikasi saya sehingga berani menuliskan tips wawancara ini. Jawaban saya sederhana, saya tidak memiliki kualifikasi resmi. Yang saya tuliskan adalah pengalaman pribadi ketika diwawancarai tiga tahun lalu ditambah hasil bacaan dan ngobrol dengan teman.

Seleksi ALA sangatlah kompetitif. Hanya kandidat luar biasa yang dipanggil untuk wawancara. Oleh karena itu, bersenang hati dan bersyukurlah karena panggilan wawancara itu adalah bentuk lain dari sebuah pengakuan. Kalau ada pengakuan yang patut membuat seseorang senang, maka pengakuan dari ALA adalah salah satunya. Anda telah menyisihkan ratusan atau mungkin ribuan orang hebat lainnya untuk bisa diwawancarai.

Hal pertama yang harus Anda ingat adalah bahwa mewawancara ini sama sekali bukan untuk menghakimi atau menguji Anda, apalagi mencari-cari kelemahan Anda. Sama sekali tidak. Mereka sudah tahu kemampuan dan potensi Anda, makanya Anda dipanggil wawancara. Yang ingin mereka lakukan hanyalah berbicara dalam suasana yang lebih akrab, dari hati ke hati untuk mengkonfirmasi bahwa dugaan mereka terhadap Anda tidaklah salah. Itu saja. Artinya, Anda tidak perlu menjadi orang lain, jadilah diri sendiri, seperti apa yang pernah Anda tulis di berkas lamaran terdahulu.

Meski demikian, persiapan tetaplah diperlukan. Saya termasuk orang yang tidak bisa tampil tanpa persiapan, terutama ketika berbicara dengan orang lain dalam suasana yang resmi. Ketika akan presentasi saya selalu persiapan dan bahkan latihan. Ketika akan berdiskusi dengan supervisor, saya mencoba menghafalkan satu atau dua kalimat penting. Ketika akan bertemu pejabat, saya menyiapkan ‘talking points’. Setiap kali mau presentasi di forum internasional, saya belum berhenti berlatih sampai saya bisa melakukan presentasi dalam waktu yang ditetapkan. Saya berlatih dengan stop watch. Bagi saya, bersiap-siap tidak ada salahnya, dan selalu lebih bagus dibandingkan tidak bersiap-siap. Pernah melakukan presentasi di berbagai benua tentu akan membuat seseorang lebih tenang dalam melakukan presentasi tetapi bukan berarti sudah tidak memerlukan persiapan lagi. Wawancara juga demikian.

Saat wawancara ALA tiga tahun lalu, saya menyempatkan diri mengunjungi hotel tempat wawancara sehari sebelumnya. Saya mengukur waktu tempuh dengan taksi dari tempat saya menginap. Saya harus pastikan, saya tahu persis tempatnya, tidak hanya sekedar mengira-ngira. Sehari sebelumnya saya juga cek kembali kemeja, celana kain, sepatu dan kaos kaki, dasi dan semua perangkat pakaian. Yang terutama, saya siapkan kembali berkas-berkas yg akan dibawa. Semua salinan berkas lamaran saya siapkan, termasuk publikasi (paper, buku) yang akan dijadikan bukti saat bercerita tentang kiprah akademik saya.

Saya sempatkan mengingat-ingat kembali apa yang saya tuliskan di berkas lamaran terdahulu. Semuanya mudah karena apa yg saya tulis adalah kebenaran. Saya tidak perlu merekayasa apapun sehingga tidak perlu menghafalkan apapun. Jika ditanya soal kiprah, semuanya ada dalam ingatan saya. Meskipun persiapan harus matang, sekali lagi harus diingat bahwa Anda akan melakukan obrolan santai dengan dua atau tiga orang yang pada dasarnya sudah mengakui kehebatan Anda. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Anda akan menghadapi tiga orang yang santun, professional dan sangat menghargai orang lain. Anda adalah kolega sejajar, bukan pesakitan yang akan diinterogasi.

Coba bayangkan, Ada akan bertemu dengan seseorang yang ingin meminta bantuan Anda untuk mengerjakan sesuatu. Orang tersebut menjanjikan imbalan yang sangat menarik jika Anda berhasil menyelesaikan pekerjaan itu. Orang ini sudah mendengar kepiawaian Anda sehingga menaruh rasa hormat sejak awal. Dalam situasi demikian, saya bayangkan Anda akan berada di atas angin karena Anda akan bisa menjawab segala hal yang ingin diketahui orang itu. Tentu tidak ada hal yg tidak Anda ketahui tentang diri sendiri kan? Anda bisa menjelaskan dengan mudah pekerjaan serupa yang sudah berhasil ditangangi, Anda juga bisa sedikit menambah ‘bunga-bunga’ karena pada dasarnya orang yang Anda hadapi bukanlah ahli di bidang yang Anda bicarakan, meskipun memiliki pemahaman yang cukup. Orang pintar menyebut kelompok orang seperti ini sebagai ‘non-expert but intelligent audience’. Singkat kata, anda tampil percaya diri. Sementara itu, Anda pun tetap sopan kepada orang itu dan berusaha tampil prima karena Anda tetap mengharapkan akan mendapatkan pekerjaan itu. Begitulah kurang lebih situasinya ketika Anda wawancara beasiswa ALA.

Saat masuk ruangan, tersenyumlah yang wajar sambil mengangguk sopan. Jika memungkinkankan, dekati pewawancara dan bersalaman sambil menatap matanya lekat saat mengucapkan salam “Hi, I am Andi, how are you doing?” Bayangkanlah Anda bertemu dengan calon kolega atau partner bisnis. Anda ingin tampil percaya diri, santun, dan hangat. Jangan lupa ucapkan “nice to meet you” atau “welcome to Indonesia” jika Anda tahu mereka tidak tinggal di Jakarta. Pengalaman saya tiga tahun lalu sangat positif. Pewawancaranya ramah dan hangat. Saya merasa tidak canggung menambahkan sedikit kelakar “it might be a bit too hot for you in Jakarta. You have just passed winter in Australia, right?!”. Intinya, ini adalah pertemuan orang-orang berkedudukan setara, saling menghormati dan menghargai. Di ruangan itu, tidak ada pemberi sedekah dan penerima berkah. Kedua belah pihak setara.

Saat dipersilakan duduk, duduklah dengan rileks tanpa menjadi sembrono. Tegakkan posisi badan, sebaiknya tidak bersandar jika sandaran kursinya miring. Namun jika sandaran kursinya tegak, silakan sedikit bersandar agar tidak terlihat tegang. Ucapkan terima kasih sambil tetap menebar senyum wajar. Secara bergantian tatap ketiga pewawancara Anda. Umumnya mereka akan memulai dengan mengucapkan terima kasih dan menjelaskan maksud dan proses wawancara tersebut. Sampaikan terima kasih atau sekedar mengangguk dengan mantap. Saya pribadi biasanya menempatkan kedua tangan di atas pangkuan, bukan di atas meja, dengan jari-jari terjalin satu sama lain.

Saya ingatkan kembali, Anda sedang ngobrol hal penting dengan kolega Anda. Anda tidak sedang diuji. Kondisikan bahwa Anda adalah seorang yang ahli sesuatu, dan kolega Anda ini juga ahli sesuatu yg tidak persis sama dengan keahlian Anda. Kenyataannya memang demikian. Pewawancara ini biasanya adalah profesional AusAID dan atau diplomat kedutaan Australia untuk Indonesia di Jakarta. Tentu saja sangat mungkin mereka tidak tahu persis bidang yang akan Anda pelajari. Meski demikian, mereka tentulah orang yang cerdas dan intelek. Bukankah sangat menyenangkan berbicara dengan orang yang pintar dan baik hati dengan keahlian yang bebeda dengan Anda? Dengan kemampuan yang dimiliki, Anda bisa memberikan sesuatu dalam percakapan dan sekaligus bisa mendapatkan banyak hal dari lawan bicara. Singkatnya, Anda bisa saling mengisi dengan pewawancara. Demikianlah suasana wawancara beasiswa ALA. Tidak ada yang perlu dirisaukan.

Detil pertanyaan yang muncul saat wawancara ALA sudah pernah saya tuliskan di blog ini. Silakan lihat lagi untuk mengingatkan.

Saat ditanya sesuatu, jawablah dengan tepat dan kembangkan sedikit jika Anda mengetahui aspek lain yang terkait. Pengembangan ini bisa membawa pewawancara mengikuti interest Anda sehingga selanjutnya jadi lebih mudah. Bagaimana jika ada pertanyaan yang benar-benar tidak Anda ketahui jawabannya? Jangan panik, kejujuran adalah yang utama. Katakan saja Anda tidak tahu. Anda misalnya bisa mengatakan ”I am sure this is a really relevant question. Unfortunately, I have no idea about it. I might have missed that, to be honest. However, I will be grateful if you kindly give me some clues.” Setelah diberi sedikit petunjuk, Anda mungkin punya gambaran lebih jelas. Jika tetap kabur, Anda katakan saja terus terang. “I am really sorry, but it does not ring a bell to me.” Jika Anda kreatif, Anda pasti bisa sedikit ngeles, misalnya. “Honestly, I don’t know about that one but I have some knowledge about other related aspect which I can explain, if you don’t mind.” Tunggu reaksinya. Kemungkinan Anda akan dipersilahkan jika menunjukkan kesungguhan dan wajah yang meyakinkan.

Jika Anda memang dipanggil wawancara dan semua berkas lamaran Anda siapkan sendiri dengan sungguh-sungguh, Anda tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam wawancara. Jikapun ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan baik, jumlahnya pasti sangat minimal. Yang jelas, Anda tidak akan mengatakan “I am sorry, I don’t know that” pada pertanyaan pertama. Jika tragedi ini terjadi, saya sarankan untuk mengingat lagi seberapa banyak bantuan yang Anda terima ketika mengisi formulir.

Dalam menjawab pertanyaan, akan sangat bagus jika Anda berhasil menunjukkan kesan bahwa Anda paham betul persoalan itu. Misalnya, Anda bisa mengutip angka statistik yang kebetulan Anda ketahui, atau menyebut nama orang atau negara atau kota secara spesifik ketika menjelaskan. Tentu lebih baik lagi jika Anda bisa menunjukkan hasil studi Anda yang terkait pertanyaan atau studi dosen Anda atau jurnal yang pernah dibaca terkait topik yang dibicarakan. ”An article by Schofield published ini Journal X offers a good insight concerning the issue” atau Anda bisa mengatakan ”my observation on traditional traders in Malang revealed that…” atau ”Coincidently, I have published an article concerning this issue” Anda tidak harus tahu sangat detil semua hal, tetapi menyisipkan satu atau dua informasi detil akan membawa kesan yang positif. Jangankan dalam wawancara, dalam obrolan atau komunikasi biasa saja, seseorang akan terkesan jika Anda bisa mengutip informasi kecil dengan rinci/detil. Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang mengirimkan email pada saya. Orang ini mengutip kalimat yang pernah saya tulis di blog sekitar 3 tahun lalu, untuk mengingatkan saya pada satu hal. Saya sangat terkesan dengan email tersebut.

Jika saya bicara soal materi wawancara, saya bisa saja tidak berhenti menulis karena sangat banyak kemungkinannya. Satu hal yang pasti, wawancara ini bukanlah ujian benar dan salah. Yang mewawancarai Anda bukan penjahat, mereka adalah kolega yang menaruh hormat pada Anda dan menganggap Anda setara. Anda pun semestinya memperlakukan mereka demikian. Orang yang percaya diri akan tampil sopan dan penuh rasa hormat tanpa menjadi mengemis dan menghamba. Selamat berjuang, Kawan!

Article taken from http://madeandi.wordpress.com/2010/07/30/tips-beasiswa-menghadapi-wawancara/


+++++++++++++++++++++++

Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing

by Andi Arsana

Mereka yang melanjutkan sekolah pascasarjana (S2 atau S3) umumnya memerlukan pembimbing atau supervisor atau professor. Intinya, jika bersekolah yang ada komponen penelitiannya (menulis tesis atau desertasi), kehadiran pembimbing adalah wajib. Hal ini tentu tidak berlaku pada mereka yang menempuh studi S2 by coursework karena memang tidak diwajibkan membuat tesis. Program S2 semacam ini, setahu saya, ada di Australia yang bisa ditempuh dalam waktu setahun.

Kesulitan yang cukup sering dialami oleh calon mahasiswa adalah dalam melakukan kontak dengan calon pembimbing ini. Jika Anda ingin bersekolah S2 (master by research) atau S3 di Australia, Anda sudah harus mengontak calon pembimbing sebelum datang ke Australia. Biasanya, Anda bahkan perlu melakukan komunikasi sebelum lebih jauh melamar sekolah. Jika Anda ingin melamar beasiswa seperti ALA, maka Anda wajib sudah diterima di sebuah universitas. Sementara untuk bisa diterima di universitas Anda wajib punya calon pembimbing. Singkatnya, mendapatkan pembimbing ini sangatlah penting. Jika saat ini Anda sedang di Indonesia, bagaimana cara menghubungi calon pembimbing tersebut?

Lagi-lagi harus saya tegaskan bahwa saya tidak memiliki kualifikasi formal untuk menasihati cara menghubungi professor di luar negeri. Yang saya mau sampaikan adalah pengalaman saya, pengalaman teman dan hasil membaca berbagai sumber. Untuk sedikit meyakinkan Anda, saat ini saya bekerja paruh waktu sebagai International Student Adviser di University of Wollongong yang salah satu tugasnya adalah memberi masukan/informasi kepada calon mahasiswa perihal ini. Semoga berita ini membuat saya sedikit lebih mayakinkan.

Ketika diminta menjadi pemateri di UII Yogyakarta beberapa waktu lalu, saya sampaikan beberapa hal penting dalam menghubungi professor. Pertama, Anda harus tahu orang yang akan Anda hubungi ini adalah orang sibuk. Mereka sibuk karena mereka hebat. Karena mereka hebatlah maka Anda menghubunginya kan? Saya sering berkelakar, mereka bukan supervisor, tetapi superstar yang cirinya adalah tidak mudah dihubungi, waktunya selalu terbatas. Artinya, kalau email Anda tidak langsung dibalas, bersabarlah dan itu adalah hal yang wajar. Karena mereka sibuk, biasakan menggunakan bahasa yang singkat, langsung ke pokok persoalan tanpa menjadi tidak sopan. Kalau mengirim email pertama sebaiknya tidak lebih dari 200 kata. Paragraf yang sedang Anda baca ini terdiri dari 110 kata.

Hal kedua, Anda wajib mencari tahu secara intensif informasi tentang orang tersebut. Kunjungi website universitas di mana dia berkantor dan cari informasi rinci tentang dirinya. Hal penting adalah ketertarikan risetnya, publikasi yang sudah pernah ditulis dan aktivitas risetnya saat ini. Biasanya, informasi seperti itu tidak sulit dicari di websitenya. Hal selanjutnya adalah Anda sebaiknya tidak tembak langsung, meminta dia jadi supervisor pada email pertama. Mulailah dengan menyinggung karyanya yang dipublikasikan di jurnal atau di konferensi. Intinya, Anda harus benar-benar pernah membaca tulisannya, terutama yang terkait dengan topik yang ingin Anda tekuni. Jika bisa mendapatkan tulisan terbarunya di sebuah jurnal akan lebih bagus. Bagaimana caranya? Kunjungi websitenya, lihat daftar publikasinya lalu pilih yang paling sesuai. Anda biasanya akan melihat judul atau abstraknya saja di website itu, sedangkan naskah lengkap ada di jurnal yang memuatnya. Umumnya kita di Indonesia tidak memiliki akses terhadap jurnal ini tapi jangan khawatir karena jurnal itu bisa didapatkan dari berbagai sumber. Jika Anda punya teman yang sedang sekolah di luar negeri, minta dia mengunduh jurnal tersebut dan mengirimkannya pada Anda. Jika tidak ada teman di luar negeri, kontak dosen Anda ketika kuliah dulu. Kalau dosen ini cukup gaul dan banyak temannya di luar negeri (istilah kerennya, jaringannya luas) maka tidak akan sulit baginya mendapatkan jurnal tersebut. Jika Anda merasa kurang pas dengan dosen Anda karena dulu killer dan memberi nilai C saat skripsi, coba cari dosen lain. Dari sekian banyak, masak sih tidak ada yang akrab? Jika benar-benar tidak ada dosen yang Anda kenal dengan baik, berarti Anda bermasalah. Coba pikirkan lagi, mengapa!

Tapi kalau benar-benar Anda tidak mengenal siapapun yang bisa membantu, saatnya mencari kenalan. Coba ikuti milis mailto:beasiswa-subscribe@yahoogroups.com. Di sana ada banyak sekali orang baik yang hobi membantu orang lain. Perhatikan anggota yang aktif dan sedang berada di luar negeri. Coba kontak beliau dengan santun, minta diunduhkan jurnal. Kalau cara Anda cukup sopan, semestinya ada yang rela membantu. Setelah membaca jurnal itu, perhatikan, resapi, pahami dan buat catatan penting tentang bagian yang akan Anda bicarakan. Selanjutnya dalam email pertama, lakukan sapaan singkat dan mulailah menyinggung topik tersebut. Cara yang baik adalah sedikit berkomentar untuk menunjukkan pemahaman, selanjutnya bisa ditutup dengan pertanyaan singkat tentang topik itu. Saya cukup sering melakukan ini dan selalu berhasil mendapat respon. Jika Anda khawatir dengan Bahasa Inggris Anda (atau bahasa asing lainnya), mintalah teman untuk membaca sebelum dikirim. Ini namanya KKN, Kawan Kawan Nolong.

Ada kalanya, profesor yang hendak Anda hubungi ini sudah memiliki mahasiswa bimbingan, baik S2 maupun S3. Dalam banyak kasus, bukan tidak mungkin salah satu bimbingannya itu adalah orang Indonesia. Daftar mahasiswa ini biasanya akan muncul di websitenya. Jika demikian, berusahalah mencari alamat email mahasiswa tersebut jika di website tesebut tidak ada. Jika iseng-iseng anda ketikkan namanya di Google, kemungkinan besar akan muncul alamat facebooknya. Adakah orang yang tidak memiliki fecebook di tahun 2010 ini? Tentu saja ada. Tapi orang itu pastilah bukan saya atau Anda. Kalaupun itu Anda, itu adalah sebuah pengecualian yang sangat langka. Selanjutnya coba kontak mahasiswa Indonesia ini dan sampaikan persoalan Anda. Ingat, setiap orang akan lebih senang menerima email yang sopan, tidak berkepanjangan, dan tidak sibuk memamerkan kehebatan sendiri. Ingat juga, semua orang suka dipuji, meskipun banyak orang yang berkata ”ah saya biasa-biasa saja kok. Saya hanya beruntung saja.” Padahal kalau pakai helm, helmnya sudah pecah karena pujian Anda.

Berkenalan lewat teman ini cukup efektif. Hanya saja kalau mahasiswa Indonesia ini ternyata sedang bermasalah dengan pembimbingnya itu, mungkin Anda belum beruntung. Mungkin dia tidak mau mengaku secara terus terang bahwa dia sedang bermasalah dengan pembimbingnya namun dari jawaban-jawabannya Anda tentu bisa menduga arahnya. Jika rasanya tidak mungkin, janga dipaksa dan tutup komunikasi dengan baik, tetap sopan dan tetap berterima kasih. Siapa tahu suatu saat Anda akan bertemu dia di bawah pembimbing yang sama. Sekedar peringatan, mahasiswa yang sedang pusing menulis tesis atau desertasi kadang aneh dan mudah emosi. Bersabarlah.

Jika semua lancar, jalan Anda mungkin lebih mudah karena memiliki ’perwakilan’ yang bisa menyampaikan keinginan Anda. Perlu diingat juga, banyak profesor yang sangat ingin menambah mahasiswa tetapi sulit menemukan kandidat yang cocok. Dengan direkomendasikan oleh muridnya sendiri, dia akan lebih yakin terhadap Anda. Jika demikian, urusan akan jadi lebih mudah.

Banyak orang yang bertanya pada saya, kalau mereka menguhubungi dua atau lebih profesor sekaligus dan semuanya memberikan respon bagaimana cara menolak salah satunya. Saya tegaskan, umumnya mereka profesional. Calon mahasiswa internasional yang baik memang kadang menjadi rebutan. Ini hal biasa dan jangan merasa bersalah. Kalau Anda menyampaikan dengan baik, terbuka dan apa adanya, mereka umumnya mengerti. Saya sekolah S2 di UNSW Sydney tetapi saat S3 saya memilih University of Wollongong yang lebih kecil. Sementara itu, supervisor S2 saya sangat ingin saya kembali ke UNSW. Saya mengatakan terus terang bahwa saya merasa akan lebih berkembang di Wollongong karena ini ini dan ini. Salah satu alasan penting adalah karena di Wollongong ada lebih banyak orang yang menekuni bidang yang sama sehingga punya teman diskusi yang lebih banyak. Supervisor S2 saya pun mengerti dan dia tetap memberikan reference letter yang sangat istimewa. Mereka memang profesional. Hanya saja, saya ingatkan lagi, jangan berbohong karena dunia itu sempit, apalagi bidang Anda sangat khusus. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Anda akan bertemu dia lagi di forum internasional. Jangan sampai Anda kagok sendiri. Intinya, memilih satu pembimbing dari sekian pilihan itu biasa, menegosiasikan topik juga biasa. Asal Anda tahu, komunikasi yang baik adalah yang sopan, elegan dan jelas dasarnya.

Satu hal penting, Anda harus tahu bahwa tidak semua orang hebat itu bule. Tidak sedikit yang heran dan terkejut ketika bersekolah di Australia atau di Amerika mendapati pembimbingnya adalah orang China atau India atau Timur Tengah. Maka dari itu, jangan selalu membayangkan bahwa orang yang membalas email Anda adalah orang bule. Tidak sedikit orang bukan bule yang justru sangat hebat di bidangnya. Ada beberapa kawan saya yang mengurungkan niat sekolah karena tahu calon pembimbingnya dari China. ”Jauh-jauh sekolah ke Australia dibimbing China” katanya. Saya mau tanya pada Anda, pernahkan Anda membayangkan Anda berkantor di belahan bumi utara atau selatan lalu suatu hari mendapat email dari seseorang dan orang itu memohon-mohon agar Anda mau menjadi pembimbing S3nya? Apa yang Anda pikirkan jika beberapa hari kemudian mahasiswa ini membatalkan gara-gara tahu kulit Anda sawo matang? Semoga Anda menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini.

Untuk meringkas, saya ulangi lagi calon pembimbing Anda adalah orang sibuk, jadi harus singkat saja. Anda wajib mencari informasi selengkap mungkin sebelum menghubungi dan jangan tembak langsung di email pertama. Ada sebaiknya mulai dengan mengapresiasi karyanya dan mengajukan pertanyaan. Bisa juga berkenalan lewat teman sesama Indonesia sehingga lebih mudah. Selain itu, perlu diingat bahwa mereka, umumnya professional, tidak mudah sakit hati, tidak juga mudah tersinggung. Meski begitu, tetaplah berkomunikasi dengan sopan, menghormati dan elegan. Saya ingatkan lagi, jangan terkejut kalau pembimbing anda bukan bule.

Hal terakhir yang mungkin sangat ingin Anda dapatkan dari tulisan ini adalah contoh email yang baik untuk menghubungi calon supervisor. Kalau Anda agak rajin sedikit saja dalam melakukan pencarian di dunia maya, ribuan contoh bisa Anda dapatkan. Ketik saja misalnya how to contact a professor di Googel. Meski begitu, saya ingatkan lagi, email ini mirip seperti personal statement, harus mencerminkan diri sendiri. Jangan asal salin dari sembarang tempat. Sempatkan untuk melakukan penyesuaian sendiri. Berikut adalah salah satu contoh yang mungkin bisa dipertimbangkan.

Dear Prof. Arsana,

I hope this finds you well.

I am Andi from Indonesia, a lecturer in the Department of Geodetic Engineering at Gadjah Mada University. I have read your paper concerning Australia’s extended continental shelf published in latest Marine Geodesy. Thank you for writing the paper. It is very helpful for me to understand the technicality of continental shelf beyond 200 M from baselines. I particularly like the way you explain article 76 of UNCLOS through simple, yet effective illustrations.

I have a question to ask about Australia’s extended continental shelf in the Antarctic. From the map in your paper I understood that the part has been delineated. However, it is not part of the official submission to the UN. Could you please elaborate more about this?

I am interested in the issue of continental shelf and thinking of pursuing a master degree with this topic. I hope you can shed a light on this issue. Thank you very much for your kind attention and I am looking forward to hearing from you at your earliest convenience.

Sincerely yours

Andi

Surat di atas mungkin sedikit agak panjang untuk mereka yang sangat sibuk. Karenanya itu bukan panduan yang harus Anda turuti. Itu hanya contoh saja yang saya rasa akan mampu mengetuk hati calon pembimbing Anda. Kalimat terakhir tentang apresiasi dan pengaharapan atas jawaban itu adalah standar surat resmi yang sopan dan elegan. Anda boleh tiru bagian yang itu.

Mendapatkan beasiswa memang ada caranya dan bisa dipelajari. Meski demikian ini adalah juga masalah common sense. Cobalah membayangkan diri sebagai professor. Calon mahasiswa seperti apa yang ideal menurut Anda?

Artikel dari : http://madeandi.wordpress.com/2010/06/17/tips-beasiswa-menghubungi-calon-pembimbing/

4 Responses to “Tips & Tricks”

  1. administrator says:

    How to write Curriculum Vitae (CV)

    The CV (resume, in American English) is meant to introduce you and your background to somebody who does not know you and barely has time to get to know you. It should present you in the best possible light, in a concise and well-structured manner. There are plenty of resume-writing guides out there, that can teach you to the smallest details how to write one. Their regular problem is that they do not agree with each other when it comes to details. This is why we have put here together a number of generally agreed guide-lines, plus some specific details that could help EE students. A regular CV for business purposes should definitely not go over one A4 page. If you intend to use it for academic purposes and not for a job, the CV can pass that limit, on the condition that you use the extra space to describe academic activities, like conferences, publications list, etc. A well-written CV shows first what is most important, but contains all relevant information. To this goal, we advise you to adapt it to your target (specific type of job or scholarship). Cut information from your CV only as a solution of last resort, but pay attention to the order in which you present it in your CV.

    Print the CV on plain-white A4 paper, save some of the same type for the cover letter – did we say that you should never, but never! send a CV without a cover letter – and find matching A4 envelopes. If the announcement does not say anything about a cover letter, you still should send one. It introduces your CV to the reader, attracts attention to certain parts of it that you want to bring to light, or mentions aspects that for some reason could not be listed in your CV.

    To make it look neat, we suggest you use one of the Word pre-made formats, unless you are a computer-savvy and feel confident that you can produce an even better-structured and easier-to-read format. You will be able to introduce you own headers in that format; below we have a word of advice for those most-often met in a CV.

    Personal details – here you should include your birth date, contact address, email, telephone number and nationality. In case you have both a permanent and study address, include both, with the dates when you can be contacted at each of them. Personal details can be written with smaller fonts than the rest of your CV, if you want to save space. They do not have to jump in the reader’s attention – you will never convince somebody to hire you because you have a nice email alias! If your CV managed to awaken the reader’s interest, he or she will look after contact details – it is important that they be there, but not that they are the first thing somebody reads in your CV. You should write your name with a bigger font than the rest of the text, so that the reader knows easily whose CV is he or she reading. If you need to save space, you can delete the Curriculum Vitae line on the top of your CV. After all, if you have done a good job writing it, it should be obvious that that piece of paper is a CV, no need to spell it out loud.

    Objective – this is a concise statement of what you actually want to do. It’s not bad if it matches the thing you are applying for. Don’t restrict it too much “to get this scholarship”, but rather “to develop a career in… ” the thing that you’re going to study if you get the scholarship. If you apply for a job, you can be even more specific – ” to obtain a position in… , where I can use my skills in…”. You can use a few lines to describes that specifically, but keep in mind that you should show what you can do for the company more than what the company can do for you. Writing a good objective can be tough; take some time to think about what exactly are you going to write there.

    If you, the visitor of our site, are who we think we are – a young student, or a person who has just graduated, you should start your CV with your education. Very probably, at this age it is your most important asset. We suggest you use the reverse chronological order, since it is more important what master™s degree you have rather than that, very probably, you went to high school in your native town. No matter for which order you decide – chronological or reverse – you should keep it the same throughout the rest of your CV. Try to give an exact account of your accomplishments in school: grades (do not forget to write the scale if it may differ from the one the reader of your CV is used to), standing in class (in percent), title of your dissertation, expected graduation date if you think this is an important aspect. There is no need to write all of the above, but only those that put you in the best light. Are you not in the best 20% of your class? Better not to mention ranking then, maybe you still have good grades, or your school is a renowned one. In any case, do not make your results better than in reality – you cannot know how this information may be checked and the whole application will lose credibility. Cheating is a very serious offense in Western schools.

    Awards received – you should introduce this header right after the education, in order to outline all the scholarly or otherwise distinctions you have received. Another solution is to include these awards in the education section, but this might make the lecture difficult – the reader wants to get from that section an impression about the schools you went to and the overall results, not about every distinction you were awarded. Still, these are important! Therefore, here is the place to mention them – scholarships, stages abroad you had to compete for, prizes in contests, any kind of distinction. Here, same as everywhere in your CV, write a detailed account of what happened: do not just mention the year and “Prize in Physics”, but rather give the exact date (month), place, name and organizer of the competition. For a scholarship abroad, write the time frame, name of the University, Department, the subject of classes there – e.g. managerial economics – name of the award-giving institution, if different from that of the host-university.

    Practical experience – here you should include internships as well. Don’t feel ashamed with what you did, don’t try to diminish your accomplishments! Nobody really expects you to have started a million dollar business if you’re still a student – even better if you did, though! Accountability is an important criterion for what you write in this section. The account should show what you improved, where, by how much, what your responsibilities were. The idea is that when you apply for a job you have to show growth-potential. That is, that you proved some kind of progress from one job to another and that especially at the last one you were so good, you could obviously do something that involves more responsibility – like the job you are applying for now. The overall result should portray you as a leader, a person with initiative and creativity – don’t forget you have to convince the reader of your CV that you are the best pick for that job.

    Extracurricular activities – if you’re writing a professional, and not an academic CV, this is the place to mention conferences or any other activities outside the school that for some reason did not fit in the CV so far. A good section here can help a lot towards that goal of portraying you as a leader, a person with initiative, not just a nerd with good grades.

    Languages – list here all the languages you speak, with a one-word description of your knowledge of that language. We suggest the following scale: conversational, intermediate, advanced, and fluent. List any certificates and/or results like TOEFL scores, with date.

    Computer skills – write everything you know, including Internet browsers and text editing skills. There is no absolute need to know C++ unless you wanna be a programmer or something. List certificates and specialty studies as well.

    Hobbies – list them if space is left on the page. They look fine in a CV, showing you are not a no-life workaholic, but a normal person. There is no need to have a 20,000 pieces stamp collection, you can mention reading or mountain tracking as well.

    You can introduce other headers that suit your needs. Some CV’s, for example, have a summary heading, that brings in front what the author considers to be the most important stuff in his/her CV. A references section, where you can list with contact details persons ready to recommend you can be added as well. If it misses, the recruiters will assume they are available on request.

    Source: http://www.eastchance.com/howto/cv-index.asp

  2. administrator says:

    Tips Beasiswa Luar Negeri
    Beasiswa S2 dan S3 Luar Negeri
    (disadur dari tulisan Sdr. Amwibowo)

    Berikut ini adalah beberapa teknik-teknik mendapatkan beasiswa sekolah untuk jenjang S2 dan S3 ‘gratis’ di luar negeri.

    Pengantar
    Penulis sering ditanya bagaimana caranya bisa bersekolah ‘gratis’ di luar negeri. Saya memberikan tanda kutip pada ‘gratis’ karena sebenarnya tidak 100% modal dengkul. Dalam beberapa kasus, at least kita harus bekerja terlebih dahulu untuk mengumpulkan uang untuk tiket pesawat + biaya hidup bulan pertama, dan situasi mungkin tidak memungkinkan kita untuk berkeluarga terlebih dahulu.

    Jenis beasiswa yang akan saya utarakan pertama adalah jenis beasiswa yang kansnya tinggi untuk mendapatkannya. Biasanya beasiswa jenis ini adalah beasiswa jenis riset, dan untungnya, hampir semuanya tanpa ikatan dinas. Untuk beberapa jenis beasiswa, mereka lebih senang kalau sang pelamar bekerja untuk institusi pendidikan, lembaga penelitian, atau LSM.

    Satu rule of thumb yang patut dihayati adalah: ‘kita harus berkelat-kelit untuk mendapatkan beasiswa S2, tapi relatif jauh lebih mudah untuk mendapatkan beasiswa S3?. Makanya jika Anda mengejar waktu, sebaiknya ambil dulu S2 di Indonesia, sambil juga melamar S2/S3 di tempat lain. Kalau dapat S2 gratis di luar negeri, ya yang di Indonesia ditinggal saja.Daftar Beasiswa Berdasarkan Negara

    Secara umum, beasiswa ini memiliki karakteristik:tidak memiliki ikatan dinas sama sekali
    mahasiswa harus mengerjakan penelitian sesuai minatnya, dan sekaligus sebagai thesisnya

    ——————————————————————————–
    1. Amerika Serikat

    Biasanya sekolah sekolah bagus di Amerika Serikat, (katakanlah top 50 pada bidangnya) sering memberikan beasiswa yang disebut stipend, meskipun baru mahasiswa S2. Besarnya stipend sekitar US$1000-1400, tergantung lokasi. Yang jelas cukup sekali untuk hidup. Mahasiswa yang menerima stipend itu, juga tidak perlu membayar uang sekolah (tuition fee). Lamanya stipend adalah per semester, tapi saat summer biasanya diberikan pekerjaan lain di universitas (mostly guaranteed). Kalau sedang sial (jarang sekali), tidak dapat assistantship untuk semester itu, ya pulang saja ke Indonesia dahulu.

    Syarat penting mendapat beasiswa adalah harus mau menjadi teaching assistant atau research assistant. Teaching assistant bertugas membantu proses belajar-mengajar di kelas, seperti fotokopi, setup komputer di lab untuk kelas itu, memeriksa tugas-tugas, dan memberikan tutorial di luar jam kelas. Sedangkan research assistant bertugas membantu professor di lab, seperti membuatkan program untuknya, mengatur laboratioriumnya, membuat dokumentasi riset dan sebagainya. Mahasiswa selain melakukan penelitian, juga masih diwajibkan untuk mengambil coursework (kelas).

    Memang harus diakui bahwa ada beberapa sekolah terkenal yang hanya memberikan jaminan beasiswa kepada mahasiswa S3. Untungnya, di AS, mahasiswa S1 bisa langsung masuk program S3, dimana di tengah-tengah perjalanan menumpuh S3 itu ada sertifikat bahwa ybs sudah melampaui jenjang S2. Jadi bisa ngerti sendirilah … :-p

    Untuk mendaftar ke pendidikan pascasarjana ke AS, biasanya mereka mengharuskan pelamar memberikan hasil nilai TOEFL dan GRE General Test resmi dari ETS (http://www.ets.org). Beberapa universitas terkemuka juga mengharuskan mengambil GRE Subject Test, misalnya GRE Computer Science, GRE Biology, GRE Economics, dan sebagainya. Di Jakarta, cabang ETS terletak di Menara Emporium, Jl.Rasuna Said, Kuningan. Biaya TOEFL sekitar US$60, GRE sekitar US$120. Kalau punya TOEFL > 580 (standar nilai lama) dan GRE General Test > 1750 saya sarankan pergi ke AS.

    Bahkan, saya sarankan untuk mendaftar di top 20 jika memiliki GRE > 1900. Go for it!

    Pelamar dapat mendownload formulir pendaftaran langsung dari website universitas tersebut. Dalam formulir pendaftaran itu, biasanya ada pertanyaan dari mana sumber pendanaan untuk kuliah nanti. Pilihlah option untuk ‘menggantungkan sepenuhnya pada universitas dengan stipend assistantship’. Biaya pendaftaran biasa antar US$30-$60.

    Kemudian mereka biasanya menyuruh kita untuk membuat statement of purpose. Tujuan dari statement of purpose adalah untuk meyakinkan bahwa Anda layak dapat beasiswa. Anda harus menunjukkan ‘kemampuan’ Anda, jangan malah merendahkan diri! Statement of purpose isinya:
    > Mengapa kita ingin melakukan pendidikan tinggi
    > Bidang peminatan kita apa, kalau bisa tunjukkan sedikit pengetahuan Anda mengenai ‘trend’ di bidang riset itu.
    > Mengapa kita ingin melakukan riset di bidang itu
    > Kalau sudah selesai mau jadi apa dan mau bekerja di mana (akademisi, industri, profesional, etc.) sebagai apa

    Selain itu Anda sebaiknya juga menceritakan:
    kalau mungkin, tunjukkan bahwa Anda memiliki kompetensi di bidang itu (jadi memang ada baiknya dari sekarang Anda sudah memiliki bidang yang fokus).
    tunjukkan bahwa Anda bisa menjadi asisten pada mata kuliah S1 apa saja (jika jadi teaching assistant). Tapi jelaskan pula bahwa Anda bisa ‘fleksibel’.

    Karena biasanya statement of purpose itu harus singkat dan lugas (sekitar 1/2 halaman, max 1 halaman), kalau perlu Anda menceritakan 2 point di atas di luar statement of purpose. Tapi kalau masih muat, ya masukkan saja dalam statement of purpose.

    Sebelum mendaftar, ada baiknya jika Anda memastikan terlebih dahulu bahwa bidang Anda minati, ada profesor yang memiliki minat yang kurang lebih sama di universitas itu. Sebaiknya, bercakap-cakap dahululah dengan profesor tersebut, katakan bahwa saya tertarik untuk melakukan riset. Tanyakan pula apakah dia berminat mengambil Anda menjadi mahasiswanya. Jangan lupa cari muka sedikit :-) . Hal ini akan sedikit memperlicin jalan saat seleksi mahasiswa baru. Sekedar info, biasanya universitas di AS tidak meminta research plan yang kongkrit, karena baru saat di sana nanti merencanakan riset.

    By the way, sebelum pergi ke AS, kita juga harus memiliki persediaan uang selama satu bulan ($1500+), plus tiket pesawat ke Amerika Serikat.(sekitar $700).

    ——————————————————————————–
    2. Kanada
    Sama seperti Amerika Serikat, dan banyak diantara mereka tidak memerlukan GRE Subject Test. Meskipun ada Canadian Education Centre (CEC) di World Trade Center, Jl.Jendral Sudirman, tapi saya pikir cukup ke website universitasnya saja.

    ——————————————————————————–
    3. Jerman
    Di negara-negara Eropa daratan (excluding British), biasanya tidak mengenal program bachelor (S1), karena bachelor adalah pola pendidikan Anglo-Saxon. Yang bisa dibilang dekat dengan S1-nya adalah program-program politeknik. Nah, oleh karena itu lulusan S1 Indonesia harus diupgrade agar sama dengan lulusan uni Eropa daratan, yakni Doktorandus (Drs), Diplom (Dipl) atau Licente (Lc). Gelar kesarjanaan ini sama dengan S2.

    Seperti banyak kita ketahui, universitas-universitas di Jerman sama sekali tidak memungut biaya. Tapi tentu saja kita harus memiliki sumber pendanaan untuk biaya hidup.

    DAAD (http://www.daad.de) adalah lembaga Jerman yang menyediakan informasi pendidikan dan juga informasi beasiswa di Jerman. Kantornya di Jakarta berlokasi di Gedung Sumitmas II, Jl.Jendral Sudirman, di depan Depdikbud. Mereka memiliki program beasiswa setiap tahun. Skim beasiswa yang disediakan DAAD mencakup S2, S3, sandwich program, riset 3-6 bulan, dan juga postdocotoral research. Tiket pesawat disediakan. Kalau dapat beasiswa dari DAAD, bisa modal dengkul.

    Ada pula beasiswa dari industri seperti dari Siemens besarnya 1200 DM. Tidak harus pegawai negeri.

    Untuk belajar di Jerman tidak harus melalui DAAD. Kalau untuk S3, setiap mahasiswa S3 pasti mendapatkan beasiswa. Jadi bisa saja setelah Anda lulus S2, Anda langsung mencari universitas di Jerman yang kebetulan ada profesor yang bidangnya sama dengan bidang peminatan Anda, dan melamar. Tapi tentu Anda akan butuh mencukupi sendiri biaya hidup 1 bulan dan tiket pesawat ke Jerman.

    Untungnya, berbeda seperti di AS dan Kanada, biasanya di Jerman, Belanda, Austria, Belgia dan Switzerland, tidak memiliki kewajiban jadi teaching assistant atau research assistant. Kalaupun ada biasanya cuma 1 session tutorial per minggu. Tidak berat sama sekali. Kalaupun kita disuruh menulis paper, itu juga biasanya untuk kepentingan kita juga. Gaji (atau katakanlah beasiswa) kita cukup sekali untuk hidup.

    Jangan lupa kontak profesornya dahulu (sama dengan cara yang di AS). Kirimkan pula statement of purpose dan research plannya. Kalau perlu diskusikan dahulu research plannya (biar cocok dengan pembimbingnya) sebelum mendaftar ke universitasnya.

    Isi research plan itu standar-standar saja: latar belakang masalah, problem, metodologi penelitan, bagaimana kamu kira-kira akan memecahkan masalah tersebut, dll. Garis besarnya saja, asal bisa memberikan gambaran apa yang akan Anda teliti.

    Saya sarankan untuk mengambil kursus bahasa Jerman di Goethe Institute, karena paling sedikit ada 3 negara yang menyediakan beasiswa, menggunakan bahasa Jerman, yakni Jerman, Switzerland dan Austria. Peluang beasiswa menjadi meningkat. Sudah begitu, kalau sudah bisa Jerman, belajar bahasa Belanda jadi gampang sekali.

    Sebenarnya kalau Anda menempuh S3, dalam realitanya tidak harus menggunakan bahasa Jerman saat berdiskusi dengan peer atau profesor. Hal ini karena tidak banyak orang yang mau mengikuti program S3, dan biasanya universitas itu yang ‘membutuhkan’ mahasiswa S3. Cuma, untuk meningkatkan probabilitas mendapatkan beasiswa, kenapa tidak belajar bahasa Jerman?

    ——————————————————————————–
    4. Belanda
    Sama persis dengan Jerman, hanya saja nama lembaga penyalur informasi pendidikannya adalah Netherlands Education Center (NEC). Di Jakarta lokasinya di Gedung Patra Jl.Gatot Subroto, Kuningan. Kantornya bersebelahan dengan kantor kamar dagang Belanda di Indonesia.

    Sekolah di Belanda juga gratis, tapi yang international programme biasanya tidak gratis. Pemerintah Belanda juga menyediakan skim beasiswa yang saingannya lumayan banyak, namanya beasiswa TALIS.

    NEC juga menyediakan informasi beasiswa tahunan yang disediakan langsung oleh universitas-universitas di Belanda. Selain itu ada juga program-program internasional yang berbahasa Inggris. Sayangnya untuk level S2 (Drs, Ir.), beasiswa kelas-kelas berbahasa Inggris itu biasanya cuma 1/2 uang tution fee dan sulit mendapatkannya.

    Untuk S3, gratis dan digaji, sama seperti Jerman.

    Informasi lebih lanjut bisa hubungi:
    Netherlands Education Centre
    Citra Graha 7th floor, suite 703
    Jl. Jend. Gatot Subroto kav. 35-36
    Jakarta 12950
    Indonesia
    Phone (62 21) 5200453, 5201085
    Fax (62 21) 5200457
    E-mail: necjkt@ibm.net This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it

    ——————————————————————————–
    5. Austria & Swiss
    Secara umum sama seperti Jerman. Tiap tahun kedutaan Austria dan Switzerland juga menyediakan beasiswa, namun berbeda dengan Belanda dan Jerman, mereka tidak menyediakan beasiswa S2 sama sekali. Yang mungkin adalah gelar S2 dari Indonesia, tapi sandwich di sana (penelitian 6 bulan – 1 tahun). Tapi tentu masih mendapat sertifikat. Selain itu tentunya beasiswa dari kedutaan Austria dan Switzerland juga ada yang untuk S3. Semuanya lengkap dengan tiket pesawat dan ongkos hidup. Practically bisa dengan modal dengkul kalau dapat beasiswanya.

    Saat interview di kedutaan biasanya akan ditanya hal-hal yang sama seperti dalam statement of purpose dan research plan. Di kedutaan Swiss juga ada test bahasa, sekedar untuk menguji saja, toh nanti juga disekolahkan di sekolah bahasa di Swiss sebelum masuk kuliah. Tergantung Anda memilih sekolah di mana, ada universitas di Swiss yang berbahasa Perancis, seperti misalnya di Geneva. Tapi kalau di sebelah utara dan timur, umumnya berbahasa Jerman.

    Anda juga bisa daftar langsung ke universitas yang bersangkutan, terutama untuk program S3, dengan cara sama seperti Jerman & Belanda. Gratis dan digaji juga.

    E-mail kedutaan besar Swiss (di Jl.Rasuna Said, dekat Erasmus Huis): swiemjak@rad.net.id This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it

    ——————————————————————————–
    6. Jepang
    Sebenarnya kalau sampai di Jepang sana, cukup banyak beasiswa, namun sayangnya tidak banyak yang full membiayai uang kuliah dan biaya hidup. Bahkan untuk S3 saja juga harus bayar.

    Pemerintah Jepang menyediakan juga beasiswa Monbusho kepada orang-orang Indonesia. Ada dua jenis beasiswa Mombusho. Yang pertama pelamar harus pegawai negeri atau dosen. Melalui jalur ini, pelamar kalau lolos seleksi akan dicarikan pembimbing/profesor yang cocok sesuai minat. Sedangkan yang satu lagi sang pelamar harus aktif mencari sang profesor, dan menanyakan apakah si profesor tersebut bersedia menjadi pembimbing riset pelamar. Klik di sini untuk informasi lengkap mengenai beasiswa Monbusho.

    Di kedutaan Jepang Jl.MH Thamrin, terdapat perpustakaan yang berisi informasi pendidikan tinggi di Jepang.

    Informasi mengenai beasiswa di Jepang di bawah ini saya dapatkan dari rekan saya Rahmat:

    a. INPEX Foundation
    Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Beasiswa ini tidak mengikat (tidak ada ikatan dinas). Test dan sistem seleksinya diadakan di Indonesia. Beasiswa ini mengcover juga tiket pp Indonesia – Jepang. Pendaftaran dibuka dari tanggal 1 Agustus dan deadline penyerahan dokumen tanggal 15 Nopember. Besarnya beasiswa 160.000 yen/bulan. Uang kuliah, uang pendaftaran, uang ujian masuk ditanggung semua oleh sponsor. Formulir applikasinya bisa di dapat di alamat berikut :
    14 F Ebisu Neorato 4-1-18 Ebisu, Shibuya-ku, Tokyo 150-0013 JAPAN

    b. The OKAZAKI Kaheita International Scholarship Foundation
    Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Beasiswa ini tidak mengikat (tidak ada ikatan dinas). Test dan sistem seleksinya diadakan di Indonesia. Beasiswa ini mengcover juga tiket pp Indonesia – Jepang. Formulir applikasinya bisa di dapat di alamat berikut :
    3-2-5 Kasumigaseki, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0013 JAPAN

    c. The Hitachi Scholarship
    Beasiswa ini bisa untuk S2 ataupun S3. Syaratnya harus alumni dari ITB, UI, UGM, IPB dan formulir bisa diambil dan ditanyakan dari rektorat masing-masing universitas tsb diatas. Beasiswa ini juga mengcover tiket pp Indonesia – Jepang, uang kuliah, uang pendaftaran, uang ujian masuk, perumahan ditanggung juga, dan uang beasiswa 180.000 yen/bulan. Informasi lebih lanjut bisa di dapat di :
    1-5-1 Marunouchi, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0005 JAPAN

    d. Matsushita Electric Industrial Co., Ltd
    Panasonic Scholarship Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Tidak ada ikatan dinas dalam beasiswa ini. Pendaftaran dibuka bulan February – Maret. Beasiswa ini juga mengcover tiket pp Indonesia – Jepang. Uang kuliah, uang
    pendaftaran, uang ujian masuk ditanggung oleh sponsor, uang beasiswa 200.000 yen/bulan.
    Informasi lengkap lihat di http://http://www.panasonic.co.id/
    atau kontak e-mail : pan11311@pas.mei.co.jp This email address is being protected from spam bots, you need Javascript enabled to view it
    Panasonic Scholarship, Matsushita Electric Industrial Co., Ltd
    1006 Kadoma Osaka, 571-8501 JAPAN

    e. Beasiswa dari Aichi Prefecture, Aichi Scholarship
    Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Tidak ada ikatan dinas dalam beasiswa ini. Deadline penyerahan application 20 Mei. Syarat yang harus dipenuhi, Universitas yang dipilih harus berada di Aichi Prefecture. Uang kuliah, uang pendaftaran, uang ujian masuk ditanggung oleh sponsor, uang beasiswa 185.000 yen/bulan. Informasi lebih lanjut bisa di dapat di : Aichi Prefectural Office, 3-1-2 Sannomaru, Naka-ku, Nagoya-shi, Aichi 460-01 JAPAN

    f. The Japan Securities Scholarship Foundation
    Beasiswa ini untuk melanjutkan S2 di Universitas Jepang. Tidak ada ikatan dinas dalam beasiswa ini. Application dari bulan Januari sampai Mei. Beasiswa mengcover tiket pesawat, Uang kuliah, bantuan biaya perumahan (apartemen), dan uang beasiswa bulanan sebesar 120.000 yen. Beasiswa ini diberikan buat jurusan Social Science, Humanities. Informasi lebih lanjut bisa di dapat di :
    Tokyo Shoken Building
    5-8 Kayabacho, 1-chome, Nihonbashi, Chuo-ku, Tokyo 103-0025 JAPAN

    ——————————————————————————–
    7. Singapura
    Singapura memiliki dua universitas ‘negeri’, yakni National University of Singapore (NUS), dan yang lebih baru yakni Nanyang Technological University (NTU). Memang harus diakui bahwa NUS bukan sekolah ‘bule’ (meskipun banyak pengajarnya dari manca negara), tapi peringkat NUS selalu berada di top 10 universitas di Asia, dan selalu diatas seluruh universitas Australia. Meskipun untuk orang awam seolah-olah tidak membanggakan (karena bukan sekolah bule), namun reputasi internasional NUS memudahkan mahasiswanya dan lulusannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

    Beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Singapura melalui kedua universitas itu ada yang berbasis coursework (sulit masuknya, saingannya ketat dari seluruh ASEAN), dan ada lagi yang berbasis riset S2/S3 (lebih mudah). Untuk mendapatkan beasiswa berbasis riset, dalam formulir pendaftaran (download dari http://www.nus.edu.sg atau http://www.ntu.edu.sg) juga lampirkan proposal riset (research plan). Bahkan kadang-kadang bisa tanpa proposal riset, dengan cara bercakap-cakap dengan profesornya terlebih dahulu (via e-mail) dan meminta sang profesor memberikan alternatif research plan. Pokoknya asal menunjukkan minat melakukan penelitian.

    Beasiswa (gaji) bulanan yang diterima adalah SG$1400, tanpa tiket pesawat (kecuali yang ASEAN scholarship). Biaya hidup bulanan (hidup enak) sekitar SG$1000, jadi masih bisa menabung SG$400 per bulannya.

    ——————————————–
    8. Australia & Inggris
    Seperti kita ketahui Australia menyediakan beasiswa tahunan AusAID yang saingannya berjibun. Pusat informasi pendidikan Australia adalah IDP, berlokasi di Jl.Rasuna Said.

    Sedangkan Inggris juga menyediakan beasiswa S2 dan S3 tahunan (British Chivening) yang pelamarnya banyak sekali. Informasi tersebut bisa didapatkan di British Council, Widjojo Centre. Beasiswa diberikan kepada 80% pegawai negeri dan 20% swasta.

    Perlu diberitahukan juga bahwa di British Council tersebut juga sering ada pengumuman beasiswa untuk S2/S3, hanya saja sayangnya hampir semua beasiswa tersebut parsial (misalnya 1/2 uang tuition).

    Australia dan Inggris adalah negara-negara yang terkenal pelit dalam soal beasiswa, mentang-mentang pakai bahasa Inggris. Kasarnya, mereka mengkomersilkan pendidikan. Bahkan untuk S3, harus bayar. Kalaupun ada program beasiswa, saingannya banyak sekali.

    Tapi jangan putus asa. Kalau ada kemauan, maka ada jalan. Beberapa universitas di Australia, menyalurkan beasiswa riset dari pemerintah Australia untuk jenjang S2/S3 terbatas kepada pelamar internasional (bukan AusAID), termasuk biaya hidup (tanpa tiket pesawat dan settlement cost). Hanya saja saingannya lumayan banyak, meskipun tidak seketat AusAID. Dalam formulir pendaftaran yang biasanya bisa didownload langsung dari website universitas, jangan lupa cantumkan statement of purpose dan research plan.

    Tapi saya juga pernah ditawari untuk mengajar program bachelor di Australia (mungkin saat itu mereka sedang kekurangan dosen), sekaligus mengambil program S3. Jadi ada kans untuk mengajar atau jadi tenaga peneliti, sekaligus mengambil S3. Tinggal pintar-pintarnya kita saja membujuk mereka agar mau mengambil kita. Manfaatkan kunjungan-kunjungan lembaga pendidikan Australia ke Indonesia untuk merekrut mahasiswa S1, untuk mencari kemungkinan S3 sekaligus bekerja di universitas itu.

    Kemudian University of Cambridge (http://www.cambridge.ac.uk) juga menyediakan beasiswa lepasan tanpa ikatan dinas.

  3. administrator says:

    Tips Beasiswa ke Malaysia
    Written by Portal Beasiswa (disadur dari tulisan Anton Satria Prabuwono)

    Tips Beasiswa ke Malaysia Bagi yg berminat studi lanjut (S2/S3) di Malaysia ada beberapa cara untuk mendapatkan financial support:
    1. Research Assistant (RA)
    Jalur ini bagi spv./calon spv. yang mempunyai proyek (IRPA atau swasta). Cara mengetahuinya dengan membuka website Universitas yg akan dituju (gunakan search engine/google etc.), kemudian cari faculty/department yg diminati. Biasanya juga ada informasi mengenai proyek2 yg sedang/akan dijalankan. Atau coba email lgs Prof. yg mempunyai kepakaran sesuai dg bidang yg diminati, ceritakan latar belakang akademik dan pengalaman anda, terus tanyakan kemungkinan mendapat RA/Scholarship bidang tsb. Tidak menutup kemungkinan Prof. akan mencarikan solusi atau menginformasikan rekan sejawat yg mempunyai proyek. Perlu diketahui bahwa untuk RA, umumnya pelajar menempuh studi by research/thesis atau kombinasi coursework & thesis.
    2. Malaysia melalui beberapa forum juga menyediakan beasiswa untuk negara2 anggota ASEAN, OIC, atau lainnya seperti Malaysian Technical Cooperation Program (MTCP). Coba browse: http://www.epu.jpm.my/Bi/mtcp/MTCPFRAME.htm. Prosesnya melalui kedutaan/konsulat Mly di Indonesia.
    3. Beasiswa dari universitas.
    Beasiswa ini disediakan oleh masing-masing universitas, dan berbeda-beda bentuknya sesuai dengan kebijakan univ. Informasi bisa dilihat di website univ. Biasanya pada Graduate Institute/Center of Graduate Studies atau tanyakan langsung by email.
    4. Sponsor-sponsor lain. Coba browse kemungkinan lain untuk mendapat informasi beasiswa studi di Malaysia, spt yg ada di website Islamic Development Bank: http://www.isdb.org/english_docs/idb_home/sac.htm atau coba explore info yg ada di website: http://www.studymalaysia.com/student/scholarship.php

    Semoga ada pencerahan.

  4. administrator says:

    How to Get a Scholarship
    (Taken from http://www.bookrags.com)

    Scholarships are tricky things. Everyone wants one. Few people get them. Apparently, there are millions out there that go unused on an annual basis. Because scholarships differ from loans in that they are free money, they are coveted beautiful things. They are also brilliant resume boosters and look fantastic on any resume.

    Now, there are so many types of scholarships, it helps to be abreast of the types, time ranges, amounts, and places to find them. Some high schools give away scholarships prior to attending college. Some scholarships are merit based, others need based, others interest based, other cultural based. The list goes on.

    The best way to begin seeking scholarships is to do your research. Every college and university will have a dowry with various scholarships. Usually they will be listed on the school’s website; however, you can always inquire as to their prevalence. When you learn about them, you can find out how much, many, and reasons behind them. Essentially, scholarships don’t usually just get handed to you (although some lucky people do find this fortuitous world). You must do your research.

    Here are some types of scholarships.

    1. Merit Scholarships
    Scholarships typically revolve around this type of award. People who excel in academics are awarded a scholarship on the basis of their overall academic achievement. This may come in the form of top GPA, excellent SAT scores, and so on. These are highly competitive and may come in various forms.

    2. Need-Based Scholarships
    This type of scholarship is given purely on financial means. They are designed to fund the less-fortunate students in their academic pursuits. Scholarship committees look at various reasons for this hardship: Parents’ income, number of siblings in school simultaneously, expenses, cost of living, etc.

    3. Athletic Scholarships
    Scholarships are popularly given to star athletes by universities to recruit them for the athletic teams. Many athletes complete their education free of charge, but also pay the price of overworked team sports. Usually full-scholarship athletes are recruited by “scouts” while in high school. You don’t usually pursue this type of scholarship; it is given to you.

    4. School-Based Individual Scholarships
    Every school offers specific scholarships relevant to specifics from the university: donors, individual name scholarships, personal scholarships, and so on. Sometimes you have to apply directly to the scholarship, and other times, just by being accepted, you are placed in the bowl for possible scholarship awards.

    5. Full/Partial Scholarship
    Many people look at scholarships as a whole and think that they sometimes cover everything. If you are lucky enough to receive a full scholarship, then yes, they cover living, books, and tuition. However, many scholarships are partial, meaning they may cover simply living, simply books, or part of the tuition. If you are awarded any type of scholarship, take it and run! They are prized, wonderful gifts, and you should feel honored to receive one.

    If you try hard enough, you are likely to find at least one or two that match your interests and qualifications. It takes much patience and time, but you are bound to find a scholarship for you.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

"Miscellaneous Information"

This sites are a room center for scholarship (beasiswa) information. You can find the information scholarship as you need such as scholarship degree or country or tips n tricks. :)


About the author

administrator

I am lecturer n teaching in Management. I presented this sites because I had some difficult to get scholarship (beasiswa). I hope this sites can give you more n more info around scholarship (beasiswa) in Indonesia or in another country around the world.